Langsung ke konten utama

30 Jam 3 Orang 1 Produk





 Mungkin, artikel ini berjudul 30 jam, tapi cerita yang kubawakan mungkin akan lebih panjang. Cerita tentang perjalan membuat Workoutin (ini link copyannya). Walau masi jauh dari sempurna. Namun, perjalanan ini cukup menarik buat aku critain. Ini merupak first time masuk final lomba nasional, ya meskipun belum juara 1 :"), but hamdallah.

Berawal dari sebuah informasi lomba di notion. Ya, awalnya aku kurang berminat, karena takut, dan banyak hal lain. Namun, aku sadar, kalo aku tetep di state ini, ga mau bergerak, mana mungkin berubah? Cerita pun berawal dari pencarian tim. Aku tidak begitu saja mendapat tim. Beberapa kali mendapat penolakan. Hingga akhirnya terbentuklah, Risqi, Yandy, Helmi, alias Gak Ada Ide.

Aneh memang, berawal dari kebingungan memberi nama, kami pun akhirnya memberi nama "Gak Ada Ide" karena memang ga ada ide untuk nama tim. Setelah mendaftar, bisa dibilang, kami cukup santai dengan lomba ini. Kami tidak menarget sedikitpun. 

Saking santainya, mungkin meet yang kami lakukan bisa dihitung jari. Yap, bahkan pengumpulan yang kami lakukan pun sangat mepet deadline hehe. Oke, dimulai dari brainstroming. Layaknya brainstroming, ide dimulai dari masalah, kami coba menurunkan masalah yang ada. Membaca laporan dari BCG, McKinsey, bahkan Kementrian Kesehatan. Mudah? tentu tidak. Ketika menemukan suatu masalah, kami coba cari akarnya. Setelah ketemu, kami validasi. Jika memang ada, kita mulai mempertanyakan, apakah sudah ada inovasi mengenai masalah ini? Jika sudah apa kurangnya? yap sedikit mirip dengan cara berpikir buku Human Computer Interaction. Padahal anggota tim kami belum ada yang ngambil matkul HCI wkwk.

Mudah? tentu tidak, berkali-kali kami mencoba menemukan masalah, hasilnya? berkali-kali juga masalah tersebut sudah ada solusinya. Namun, iterasi tak berhenti, entah berapa belas artikel, laporan telah dibaca. Hingga tercetus ide out of the box, Workoutin, ya idenya diturunkan dari masalah yang dialami, mengenai olahraga yang tak kunjung memberi manfaat, serta justru membuat celaka. 

Solusi diturunkan dari ide tugas besar mata kuliah RPL. Dengan sedikit penyeusian, kami pun mulai mengerjakan proposal, deck, design secara asinkron. Hingga pada akhirnya di 3 jam terkahir, kami belum menyelesaikan pitch deck dan rekamannya. Saat itu, kondisi kami teprisah jauh, aku sedang berada di Asrama Haji Sukolilo. Dengan resource seadanya kami pun segera melakukan kebut, hingga akhirnya kami menyelesaikan rekaman pukul 12 kurang sedikit. Rekaman itu pun dilakukan di lobby Asrama Haji, aneh kan ya hehe.

Berwaktu berselang, aku dan tim tidak memiliki ekspektasi akan lolos, pun lombanya gratis kan? Bum, yap, lolos 10 besar. Sejujurnya aku pun tak percaya, hingga di-invite masuk grup. Namun, ini bukan akhir, tapi baru permulaan dari Hackathon yang kami jalani.

Kami pun mulai meng-eksplor lebih produk ini. Mencari, mana yang perlu diupgrade, hingga menentukan tech stack. Untungnya, Paragon memberikan fasilitas yang cukup bagi kami. Mulai dari seminar-seminar, pelatihan AWS, hingga mentoring. Aku mendapat 2 mentor, satu manager di IT paragon, satunya Chief Evangelish Officer Hacktiv8. Beruntung bukan? 

Dalam mentorign kami pun banyak berdiskusi. Terjadi diskusi yang cukup seru. Karena tim kami full mahasiswa IF STI, maka lancar skali diskusi di antara kami. Mentor pun sangat senang dengan diskusi yang kita lakukan. Hingga akhirnya, tibalah Hack-Day.

Tigapuluh jam, kami terpisah, aku dan Helmi di Salman, Yandy di Jakarta. Oh ya, demi hack day ini, aku pun merelakan asrama camp. Namun, untuk mendapatkan sesuatu, kita perlu mengikhlaskan hal lain kan? itulah kehidupan.

Kami mulai membagi tugas, mengerjakan Workoutin. Oh ya, sebelum hackday, akhirnya kami memetusukan untuk menggunakan firebase dan React. Jujur, aku belum pernah pakai firebase, sehingga memang hackday yang cukup keos, 31 ddengan tidur 1 jam. Seru? banget. Banyak hal yang harus dikerjakan, dari WebApp, fitur chat, hingga pitch deck.

Cukup seru bagiku, memperlajari hal baru, firebase. Serta mengerjakan hal yang selama ini sangat kubenci -- frontend. Yups, sebagai pure backend, mengerjakan frontend cukup melelahkan, tapi erplu diakui, walau hanya 30 jam, sangat banyak hal yang ku pelajari.

Menggunakan useEffect, useState, firebase, firestore, hingga async function in react. Yap, slama ini mereka hampir tak pernah ku sentuh wkwkw. Waktu berjalan, istirahat pun terelakan, kesadarn makin terbayang. Hingga akhirnya sabtu, pukul 12 malam, semuanya berakhir, dan aku bisa tidur. 

Paginya, jam 9 kami memperispakan presentasi. Ya, kami diminta menggunakan kaos PHC, sayangnya kaosku di laundry. Ketika kesana, apa yang terjadi? yap laundrynya masi tutup, akun pun kembali sembari menunggu jam 10 kurang. Setelah kembali kelaundyr, untungnya sudah buka. Segeera kembali ke kamar dan berlatih.

Jujur, persiapan sangat kurang. Banyak sekali hal yang ku evaluasi. Presentasi berjalan lancar, tapi tanya jawab kruang bisa kuladeni dengan baik. Banyak skali catatan demo day itu. Mulai dari intonasi, cara menajwab sopan, hingga tagline dan closing statemen yang kurang. Di sisi lain, deckku juga masi sangat kurang :"".

Malamnya pun pengumuman, jujur, kami tidak berekspektasi banyak, tak turun rank saja sudah baik bagiku. Namun, Allah berkata lain, kami naik2 peringkat ke Top 6. Kaget? jelas. malam itu sangat mendebarkan rasanya, jantungku seperti habis lari 10km dikejar anjing.

Yap, setelah selesai, bagiku tak begitu saja. AKu mencoba mengontak teman-temanku yang kurasa expert untuk meminta merkea memberi masukan. Banyak sekali masukan dari sis bisnis hingga presentasi. Semua kusimpan, untuk evaluasi kedepan. Terima kasih banyak kawan, dari Gak Ada ide, mentor, hingga kalian yang sudah mau memberi masukan!!!

bonus foto awarding night, tanpa persiapan pidato kemenang, karna emg ga ekspek masuk 6 besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Telnologi untuk Anak-anak, Berkah atau Petaka?

Semenjak pandemi, pendidikan yang awalnya tatap muka harus beralih  melalui internet. Anak SD yang sebelumnya mungkin tidak memiliki gawai pun kini menghabiskan waktunya dengan gawainya. Di suatu sisi, sebagai generasi penerus bangsa, untuk menghadapi masa depan yang serba digital, siswa dituntut untuk terus memahami teknologi yang ada. Dengan begitu, mereka dapat mengembangkan potensi, serta memajukan bangsa melalui teknologi. Di sisi lain, kini melihat anak SD yang kecanduan gawai merupakan hal yang biasa. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk  bermain tiktok, maupun game online. Bahkan, mungkin kita sering meliihat anak justru lebih mengenal karakter game dibanding para pahlawan. Yang lebih miris, ketika ada orang tua yang mencoba memintanya untuk istirahat dari bermain gawai, mereka justru marah, dan membentak. Tak lagi memperdulikan soal adab. Kecanduan, mungkin. Anak yang usianya masi belum memasuki masa remaja sudah tak dapat lagi lepas dari gawainya. Mereka sepert...

Memilah Data Menggunakan Library Pandas

sc: makeameme.org Filtering data? Pake filter rokok? atau pake saringan tahu? Ketika mengolah data menggunakan python, khususnya library pandas, kita mungkin tidak akan menggunakan semua data ataupun kolom pada dataset yang kita miliki. Kita hanya akan memilih data mana yang akan kita gunakan agar pengolahan lebih rapi dan simpel.  Pandas menyediakan banyak cara untuk menyeleksi data. Tiap cara penyeleksi memiliki keunikan tersendiri dalam metodenya. Penggunaan method perlu memerhatikan kenyamanan dan keperluan. Sebelum menyeleksi data, salah satu method yang kiranya perlu diaplikasikan ialah ".columns". Method ini akan menampilkan list kolom-kolom dari data frame yang kita gunakan. Pada tulisan kali ini, aku pake dataset dari kaggle. Data yang aku pake berjudul HRDataset_v14.csv . Dataset bisa diakses pada link di atas. Setelah mengetahui kolom apa saja yang terdapat pada dataset kita dapat mulai menyeleksi data. Ada beberapa cara yang dapat digunakan.  1. Seleksi dengan con...

Sistem Cerdas untuk Peningkatan Kualitas Hidup

src: STEI ITB Kemarin Rabu (02/02/2021), aku mengikuti kuliah umum yang disampaikan Prof. Suhono. Pada kuliah umum kali ini, Prof. Suhono mengangkat isu pengaplikasian sistem cerdas untuk meningkatakan kualitas hidup. Kuliah umum ini diadakan oleh KK Teknologi Informasi, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung. Berikut adalah hal-hal yang kudapat dari kuliah umum kali ini. Kemajuan teknologi infomrasi yang sangat cepat telah masuk ke segala bidang. Perkembangan sistem teknologi informasi tak berhenti di sistem otomasi saja, tetapi kehadiran sistem otonom dan cerdasnya juga telah membawa angin segar bagi tatanan kehidupan renaisance 4.0 atau society 5.0 . Pola kehidupan bermasyrakt pun ikut berubah. Namun, bila ditelisik, Indonesia masih cukup tertinggal dalam pengaplikasian sistem cerdas. Sebelum kita bahas lebih lanjut, mari kita telaah dulu, apasih sistem cerdas itu. Menurut Prof. Suhono, sistem cerdas bukan sebuah sistem dengan banyak aplikasi atau sistem ...